MADIN

Setelah meninggalkan Pondok Pabelan Magelang dengan seorang diri pada 1979,  HM Basri Bakri memulai mendidik 9 santri di masjid Al-Muttaqin dengan lentera (teplok) seadanya. Semua santri merupakan warga desa sekitar Masjid Al-Muttaqin Troditan Bolopleret Juwiring Klaten. Setelah berlangsung  selama lebih kurang satu tahun pengajaran al-Qur’an, ilmu dasar agama Islam dan bahasa Arab (durus lughoh, Gontor) dirasakan menunjukkan hasil yang baik, kegiatan pengajian beliau  konsultasikan kepada guru beliau sewaktu mengaji di kampung, yaitu KH Musthofa. Sang guru memberikan amanat agar pengajian yang sudah berjalan tersebut di buat Madrasah Diniyah Sore.

Pada 1980 Madrasah Diniyah Al-Muttaqin mulai berjalan dengan memakai rumah pendiri (sekarang kamar putra Pondok Pesantren Daar Al-Muttaqin), dan atas rahmat Allah SWT, animo masyarakat  Kecamatan Juwiring sangat baik, di hadapan para jamaah haji Juwiring, pada 1983, di rumah tokoh masyarakat alm. Bapak H. Fadhil, memberikan mandat tentang pengajaran al-Qur’an, juga beliau terima dari sesepuh Muhammadiyah Juwiring, Mbah H. Siswo (Bapak dari H. Muhson Burhani, tokoh Muhammadiyah Surakarta).

Seiring dengan bertambahnya santri di madrasah Al-Muttaqin, fasilitas lokasi bekas open tembakau, penyimpanan padi dan kandang ayam, yang merupakan peninggalan orang tua HM Basri Bakri, terpaksa dipakai sebagai tempat pengajian.

Pada 1995, gedung bangunan lama direnovasi dan mulai dibangun gedung baru Madrasah Diniyah Al-Muttaqin, dengan proyeksi 4 lantai. Selama pembangunan lantai pertama berlangsung, para santri madrasah melangsungkan belajar mereka dengan meminjam rumah-rumah warga kampung Dukuh Troditan Bolopleret. Dengan visi keumatan, maka pada 1995 HM. Basri Bakri mewakafkan tanah ke lembaga keagamaan Muhammadiyah.

X